MENILIK SEJARAH LAHIRNYA KOTA BANDUNG

Ucapan selamat datang di kota bandung

Wilujeung Sumping…. (Selamat datang). Itulah kata yang tertera di sebuah Blackboard PEMKOT Bandung saat anda memasuki kota bandung.

Bagi anda yang sudah sering wara wiri kota bandung mungkin sudah tidak aneh lagi dengan keistimewaan kota bandung, bahkan tidak hanya wisatawan dalam negeri tapi pelancong luar negeri pun sudah menganggap kota bandung merupakan target tujuan perjalanan mereka, diantaranya Malaysia dan Singapura.

Jika anda penasaran dengan kota Bandung, mungkin tidak ada salahnya Anda membaca sedikit salah satu tulisan dari pemerhati sejarah Bapak Salming Umar.

Bandung Lahir dari Tusukan Tongkat Daendels

BENARKAH Kota Bandung lahir tanggal 25 September 1810? Keakuratan dan ketepatan penentuan kota ini memang patut dipertanyakan, pasalnya, dalam beberapa literatur mengenai sejarah Kota Bandung terungkap bahwa Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, punya peranan yang signifikan dalam soal penentuan hari lahir kota ini.

Pada waktu itu ia sedang mengawasi pembuatan jalan raya terkenal yang melintasi Pulau Jawa, sekaligus untuk mengakomodasikan gerakan tentara Belanda, dalam usaha melindungi diri dari serangan Inggris. Menurut catatan sejarah, Inggris menyerang Batavia di tahun 1800, 1806, dan 1810.

Dalam inspeksi tersebut, Daendels mengucapkan kata-katanya yang termasyhur, “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” (Usahakanlah bila aku datang lagi ke sini telah dibangun sebuah kota). Ia lalu menusukkan tongkat kayunya ke tanah. Ia mungkin tidak menyadari kata-katanya itu akan terbukti benar, karena titik di mana ia menghunjamkan tongkatnya ke tanah, telah menjadi titik nol kilometer Kota Bandung yang sekarang tumbuh menjadi sebuah kota besar.

Tusukan tongkat Daendels itu lalu diikuti dengan Surat Perintah tanggal 25 Mei 1810 kepada Bupati R Wiranatakusumah II agar memindahkan kota ke lokasi yang ditunjuknya terhitung mulai tanggal 25 Mei 1810.

Namun, Bupati Wiranatakusumah II dalam berbagai pertimbangan tidak begitu saja mengimplementasikan perintah Daendels yang terkenal keras atas dasar tusukan tongkatnya itu. Ketika ia harus menetapkan “Alun-alun” sebagai pusat pertumbuhan kota, titik penunjukan Daendels telah digeser sang bupati sekitar 250-an meter ke sebelah baratnya, ke sisi lain Jalan Raya Pos.

Bila titik penunjukan Daendels terletak sekitar 150-an meter sebelah timur Sungai Cikapundung, maka alun-alun hasil penetapan Bupati Wiranatakusumah II terletak persis di tepi barat Sungai Cikapundung sebagaimana sekarang ini, yang sebagian telah berdiri gedung pusat perbelanjaan Palaguna Nusantara. Kalau waktu itu Bupati Wiranatakusumah II mengikuti tusukan tongkat Daendels, ia akan kesulitan menempatkan lokasi masjid (Masjid Agung) yang memang harus dibangun di sebelah barat alun-alun. Soalnya, kalau di sebelah timur, pembangunan masjid bakal terhalang Sungai Cikapundung.

Sayangnya, Pemkot Bandung di masa Orde Baru (Orba) tidak memilih tanggal 25 Mei 1810 sebagai hari lahir Kota Bandung. Akan tetapi, memilih tanggal 25 September 1810 yang sebenarnya adalah tindak lanjut Surat Perintah (SP) tanggal 25 Mei 1810, yaitu peresmian gedung kantor baru pemerintah kota yang dipindahkan dan kini jadi Pendopo Kota Bandung, tempat tinggal wali kota.


MENURUT sejarawan yang terlibat langsung dalam penetapan hari lahir Kota Bandung, ditetapkannya tanggal 25 September 1810 sebagai hari lahir Kota Bandung sudah melalui pembahasan dan pengkajian yang mendalam sebagai berikut.

Pertama, sudah beberapa kali diseminarkan dan telah disetujui DPRD Kodya Bandung (zaman Orba).

Kedua, tanggal 25 September 1810 merupakan peresmian kantor baru pemerintah kota yang ditetapkan dengan besluit (Surat Keputusan) Bupati Wiranatakusumah II. Besluit lebih kuat status hukumnya daripada Surat Perintah.

Ketiga, tidak berbau kolonial karena sepenuhnya dilakukan oleh Bupati Wiranatakusumah II. Di sini terlihat bahwa faktor tusukan tongkat Daendels dengan SP 25 Mei 1810 untuk memindahkan kota samasekali diabaikan. Padahal, itu merupakan bukti kuat (hard evidence) untuk menetapkan hari lahir Kota Bandung yang akurat dan tepat.

Di luar negeri, Kota Sydney di Australia, misalnya, hari lahirnya ditandai dengan permukiman pertama narapidana Inggris yang dikirim ke Australia, dikomandani Kapten Phillip sebanyak 11 kapal dengan jumlah narapidana 800 orang. Dimukimkan pada tanggal 26 Januari 1788 di kawasan Port Jackson. Saat ini tempat tersebut jadi obyek wisata sejarah terkenal di Sydney, disebut “The Rocks” atau dijuluki “Australia’s Foundation/Australia’s British birthplace”. Tanggal tersebut di atas sekaligus jadi Hari Nasional Bangsa Australia (Australia Day).

Demikian pula Kota Port Moresby, Ibu Kota Papua Niugini, hari lahirnya ditandai sewaktu Kapten John Moresby dengan kapal ekspedisinya HMS Basilisk melego jangkar pada tanggal 21 Pebruari 1873 di perairan pantai Desa Hanuabada. Pada waktu itu yang namanya Port Moresby masih berupa semak belukar dan pantainya penuh ditumbuhi mangrove (pohon bakau).

Kedua contoh di atas menggambarkan bagaimana menghargai dan memberlakukan sejarah atas dasar fakta senyatanya. Bukan karena dianggap berbau kolonial, lalu sejarah dipelintir sehingga melenceng dari yang semestinya.

Hemat penulis, tanggal 25 Mei 1810 lebih tepat dijadikan hari lahir Kota Bandung. Pasalnya, tanggal 25 Mei 1810 punya hard evidences lebih kuat daripada tanggal 25 September 1810, yaitu tusukan tongkat Daendels menjadi titik nol kilometer Kota Bandung. Sangat jelas SP 25 Mei 1810, Daendels memerintahkan Bupati Wiranatakusumah II memindahkan kota ke lokasi yang ditunjuknya terhitung mulai tanggal 25 Mei 1810.

Selain itu tidak perlu dipermasalahkan mana yang lebih kuat dasar hukumnya antara besluit (SK) dan Surat Perintah (SP). Yang penting besluit tanggal 25 September 1810 merupakan tindak lanjut SP 25 Mei 1810.

Namun, semua ini kita serahkan pada Pemkot Bandung. Apakah punya kemauan untuk meninjau kembali keabsahan tanggal 25 September 1810 sebagai hari lahir Kota Bandung?

Penulis : 
Alm. Ir. Salming Umar, 
Pensiunan PNS, pemerhati sejarah

Post a Comment

0 Comments